Operator saya di-phk hari ini, karena habis kontrak per tanggal 1 okt ’07.
Ada yang menarik sebelumnya. Si Fulan (bukan nama sebenarnya) selama 1 minggu sebelumnya nggak masuk, dengan alas an ayahnya meninggal dunia di sumatera (bengkulu tepatnya.red). Izin dari perusahaan (sesuai UU) hanya dibolehkan cuti 2 hari, akan tetapi si fulan ambil seminggu penuh dengan sebelumnya minta izin dulu pada saya sebagai superiornya. Saya izinkan dengan pesan agar si fulan memberitahukan/menelpon HRD agar sepengetahuan separtmen tersebut. Info dari si Fulan setelah pulang dari kampungnya. Dia ditelpon oleh bagian HRD bahwa dia sudah nggak boleh lagi masuk pabrik, karena sudah dikeluarin (baca:phk), dan pada saat ditelpon itu, sifulan beserta keluargannya sedang menguburkan jasad almarhum dan tanah nya pun belum penuh.
Si fulan tentu kecewa, panic dan tidak bisa berfikir jernih, di telpon dengan agak emosi fulan bilang kalo bapak hrd (yg menelponnya) nggak punya etika dan nurani, kan bisa tunggu setelah dia pulang dari kampungnya itu, dan si fulan pun sudah siap dengan resiko dikeluarkan.
Sesampainya di pabrik, dia dipanggil menghadap bagian hrd, dan langsung menerima surat pemberhentian (surat phk) dengan alasan per tanggal 1 sudah habis kontrak.
Sebagai info, si fulan punya om di department kehakiman (Jaksa Agung Muda.red) yang punya otoritas untuk mengawasi pekerja orang asing. Dan celakanya, orang bagian hrd malah ‘nantangin’ agar om nya si fulan dating kepabrik kalo merasa nggak terima keponakannya di keluarkan. Si Om geram dengan “undangan” itu, dan berjanji akan hadir pd tgl 2 okt ini ke pabrik.
Wah, ini seru, sayang aku masuk malem gak bisa ngikutin siaran langsungnya. So hanya bisa nunggu besok malem lagi. (sebagai catatan, si om pernah mengeluarkan 2 orang HRD di perusahaan korea lain, 1 orang local dan 1 orang korea, dengan kasus yang hampir sama)
Menurutku, Etika orang HRD kurang bagus, dan hal ini bisa jadi pembelajaran orang-orang korea di pabrik ini. Berarti ntar yang perang adalah etika beserta egoisme managemen pabrik melawan kekuasaan.
Walah seru nih…
Bersambung ceritanya.